BANDA ACEH_ Seorang dosen pada Fakultas Teknik Mesin Universitas Syiahkuala (UNSYIAH) Banda Aceh punya cara sendiri untuk mengurangi s...
BANDA ACEH_ Seorang dosen pada Fakultas Teknik Mesin
Universitas Syiahkuala (UNSYIAH) Banda Aceh punya cara sendiri untuk mengurangi sampah yang banyak bertebaran di lingkungan masyarakat. Berbagai sampah yang berbahan logam aluminium diolahnya
menjadi rangka sepeda. Adalah Akhyar, ST, MP, M.Eng, yang punya cara gila ini.
Kepada acehmediart.com, dosen Teknik Mesin tersebut mengungkapkan,
bahwa Proses pembuatan rangka sepeda yang berbahan baku logam aluminium bekas tersebut
adalah dengan cara dileburkan lebih dulu ke dalam kerangka, yaitu menggunakan
sistem desain komputasi lalu setelah teruji ketahannya barulah sepeda tersebut diproduksi.
Menurutnya, sepeda tersebut dibuat berdasarkan hasil cipta karya antara
mahasiswa dengan dosen dari Teknik Mesin Unsyiah. “seluruh batang sepeda kita cetak
satu kesatuan untuk menghasilkan kekuatan yang seragam. Kalau kita las, rangka
tersebut mudah patah pada sekitar daerah lasan” ungkapnya.
Sejauh ini, baru satu sepeda bekas yang telah berhasil
diproduksi bersama Mahasiswa Teknik Mesin Unsyiah tersebut. Rencanyanya mereka juga
akan menciptakan berbagai produk ramah lingkungan lainnya dengan memanfaatkan bahan-bahan
dari kaleng bekas. “Kedepannya masih banyak yang harus kita lakukan, seperti memproduksi
kompenen motor, bahkan kalau bisa mobil.” Sebut Akhyar. Untuk satu rangka sepeda
sendiri, Akhyar menyebutkan bahwa dibutuhkan sedikitnya 5 kg kaleng alumunium
bekas.
Sebelumnya pada Pergelaran acara Innovation Expo Unsyiah 2016 yang diadakan pada 4-6 Oktober, sepeda
yang berbahan dari kaleng bekas tersebut berhasil menyabet juara II untuk kategori Inovation Tecno. Hasil cipta karya inovasi
terbaru dari mahasiswa dan para dosen tersebut menurut Akhyar telah memberi
peluang bagi dunia akademik untuk mampu menghasilkan karya inovasi yang ramah lingkungan.
“Jadi motivasi kami di sini adalah dengan memproduksi satu rangka sepeda kami
telah menyelamatkan lingkungan dari sampah logam alumunium sebanyak 5 kg” Jelas
Akhyar.
Ketika ditanya acehmediart tentang mengapa memilih
kaleng bekas dan tidak menggunakan bahan dari sampah lain, lebih lanjut Akhyar menjelaskan
bahwa itu adalah untuk menghasilkan komposisi kimia dan kekuatan serta sifat
fisis yang sama. “Kaleng Bekas, kalau dicampur kekuatannya akan amburadul”
jelasnya.
Rencananya produksi massal sepeda yang berbahan kaleng
bekas tersebut akan dilakukan setelah berbagai kelengkapan syarat terpenuhi;
seperti izin industri, izin produksi, SNI, paten, analisis amdal, dan beberapa
syarat lainnya. “Dalam hal ini diperlukan dukungan dana dari investor, baik
swasta atau Pemerintah” harap Akhyar.***
